Skema proyek fiktif PT DSI terbongkar, membuat ribuan investor kehilangan dana dan mengalami kerugian besar mendadak.
Kasus dugaan fraud yang melibatkan PT Dana Syariah Indonesia (DSI) semakin terkuak. Polri mengungkapkan bahwa perusahaan penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi ini menggunakan modus operandi proyek fiktif untuk menarik investor. Praktik culas ini merugikan ribuan pemilik modal yang mempercayakan dananya pada perusahaan tersebut.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Operasi Gelap.
Modus Operandi Proyek Fiktif PT DSI
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak, menjelaskan modus PT DSI. Mereka memanfaatkan data atau informasi dari borrower existing (peminjam aktif) yang telah terdaftar. Peminjam aktif ini digunakan untuk dilekatkan pada proyek-proyek fiktif yang tidak pernah ada.
Ade menambahkan, borrower existing yang masih terikat perjanjian aktif dan berstatus mengangsur, dipakai kembali oleh PT DSI. Proyek fiktif tersebut dibuat tanpa sepengetahuan para peminjam. Hal ini menjadi kunci manipulasi untuk menarik investor yang tidak curiga terhadap skema penipuan ini.
“Borrower yang tidak dikonfirmasi atau diverifikasi sebelumnya oleh PT DSI, digunakan kembali oleh PT DSI untuk dilekatkan kepada proyek-proyek fiktif yang dibuat oleh PT DSI,” ucap Ade. Modus ini kemudian ditransmisikan melalui platform digital PT DSI untuk menarik perhatian para lender.
Janji Manis Yang Berujung Penipuan
PT DSI menyajikan proyek-proyek fiktif ini dalam platform digital mereka. Tujuannya adalah untuk menarik pihak lender (pemilik modal) agar tertarik menanamkan dananya. Mereka diyakinkan bahwa ada proyek yang membutuhkan pembiayaan dan menjanjikan imbal hasil menggiurkan.
“Itulah yang kemudian membuat para lender ini tertarik bahwa ada proyek-proyek yang membutuhkan pembiayaan dan mereka masuk untuk melakukan investasi,” jelas Ade. PT DSI menjanjikan imbal hasil sekitar 16 hingga 18 persen kepada para lender, angka yang cukup tinggi dan memikat.
Namun, janji manis itu berujung pahit. Pada Juni 2025, saat para lender mencoba menarik dana pendanaan yang telah jatuh tempo, baik modal pokok maupun imbal hasil, dana tersebut tidak bisa dicairkan. Ini menandai terungkapnya dugaan penipuan besar-besaran yang dilakukan PT DSI.
Baca Juga: Dito Ariotedjo Datang Ke KPK, Bersiap Diperiksa Sebagai Saksi
Ribuan Korban Dan Proses Hukum Berjalan
Total terdapat sekitar 15.000 korban yang diduga dirugikan oleh PT DSI dalam kurun waktu 2018–2025. “Ini adalah pemilik modal yang diduga disalahgunakan ataupun dalam penyaluran pendanaannya itu diduga tidak sesuai dengan peruntukannya,” kata Ade Safri. Kerugian yang dialami para korban diperkirakan sangat signifikan.
Subdit II Perbankan pada Direktorat Tindak Pidana Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri kini tengah mengusut kasus ini. Dugaan tindak pidana meliputi penggelapan dalam jabatan, penggelapan, penipuan, penipuan melalui media elektronik, serta pembuatan laporan palsu. Semua ini terkait penyaluran pendanaan dari masyarakat oleh PT DSI.
Tidak hanya itu, polisi juga menyelidiki adanya tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus ini. Pada Jumat lalu, penyidik melakukan penggeledahan paksa di kantor PT DSI di sebuah gedung perkantoran di Jakarta Selatan. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum untuk mengungkap seluruh kejahatan.
PT DSI, Penyelenggara Layanan Pendanaan Online
PT DSI diketahui merupakan penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi. Mereka menghubungkan antara pihak lender (pemilik modal) dengan borrower (peminjam). Konsep ini seharusnya memfasilitasi investasi dan pembiayaan secara digital.
Namun, dalam kasus ini, PT DSI justru menyalahgunakan kepercayaan investor dan data peminjam. Mereka memanfaatkan celah dalam sistem untuk menciptakan skema penipuan yang kompleks. Akibatnya, ribuan orang kehilangan uang mereka.
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih platform investasi, terutama yang menawarkan imbal hasil terlalu tinggi. Verifikasi mendalam dan pemahaman risiko investasi sangat penting untuk menghindari menjadi korban penipuan serupa.
Jangan lewatkan update berita seputaran Operasi Gelap serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari antaranews.com
- Gambar Kedua dari lbs.id
