Propam selidiki dugaan polisi keroyok rekannya di Samapta Polda Sulteng, Fakta dan kronologi lengkapnya bisa disimak di sini.
Insiden mengejutkan terjadi di Samapta Polda Sulteng, di mana seorang polisi diduga menjadi korban keroyokan rekan seprofesinya. Propam kini turun tangan untuk menyelidiki kasus ini.
Simak kronologi, fakta, dan langkah penanganan yang diambil pihak kepolisian berikut ini di Operasi Gelap.
Propam Polda Sulteng Selidiki Dugaan Kekerasan Antaranggota Polisi
Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) tengah menyelidiki dugaan penganiayaan yang melibatkan sejumlah anggota kepolisian terhadap Bripda CS. Insiden tersebut disebut terjadi di area markas Samapta Polda Sulteng, Kota Palu, dan kini menjadi perhatian internal institusi.
Kepala Bidang Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Djoko Wienartono, membenarkan bahwa laporan terkait peristiwa tersebut telah diterima dan sedang diproses oleh Propam. Ia menyampaikan hal itu kepada CNNIndonesia.com pada Senin (9/2), sekaligus memastikan bahwa penanganan kasus dilakukan sesuai prosedur.
Menurut Djoko, setiap laporan yang menyangkut dugaan pelanggaran oleh anggota akan ditindaklanjuti secara profesional. Langkah penyelidikan ini diharapkan dapat mengungkap fakta secara objektif sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Kronologi Kejadian Di Lapangan Apel Samapta
Berdasarkan informasi awal, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (31/1) sekitar pukul 20.57 WITA di lapangan apel markas Samapta Polda Sulteng. Area tersebut merupakan salah satu titik aktivitas personel, meskipun tidak selalu digunakan pada malam hari.
Saat kejadian, Bripda CS dilaporkan berada di lokasi untuk kepentingan pribadi dan tidak sedang menjalankan tugas kedinasan. Ia juga disebut tidak memasuki area terlarang maupun melakukan tindakan yang melanggar aturan keamanan markas.
Namun situasi berubah ketika korban hendak meninggalkan lokasi. Teguran dari sejumlah anggota diduga memicu ketegangan yang kemudian berkembang menjadi insiden fisik, meskipun detail penyebab awalnya masih didalami oleh penyidik internal.
Baca Juga: Sulsel Geger! Mayat Tanpa Kepala Ditemukan Di Danau Tempe, Polisi Selidiki
Dugaan Kontak Fisik Hingga Korban Dievakuasi
Dalam keterangan yang beredar, korban disebut sempat mengalami tindakan kekerasan fisik. Bripda CS dilaporkan berusaha melindungi diri ketika situasi mulai tidak kondusif.
Peristiwa tersebut berlanjut hingga korban tidak sadarkan diri di lokasi kejadian. Rekan anggota yang mengetahui kondisi itu segera melakukan evakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu agar korban mendapat penanganan medis secepatnya.
Kondisi korban setelah mendapatkan perawatan tidak dijelaskan secara rinci, namun langkah cepat evakuasi menunjukkan pentingnya respons darurat dalam setiap insiden yang melibatkan personel kepolisian. Propam kini menelusuri rangkaian kejadian untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Klarifikasi Resmi: Disebut Bukan Pengeroyokan
Menanggapi kabar yang beredar, Djoko Wienartono menegaskan bahwa insiden tersebut tidak dapat langsung dikategorikan sebagai pengeroyokan. Ia menyebut peristiwa itu lebih tepat dipahami sebagai kesalahpahaman yang berujung pada kontak fisik antaranggota.
Djoko juga mengingatkan pentingnya menunggu hasil pemeriksaan resmi sebelum menarik kesimpulan. Semua pihak yang berada di lokasi akan dimintai keterangan guna membantu penyidik mendapatkan gambaran utuh mengenai kejadian tersebut.
Proses klarifikasi ini dinilai penting agar informasi yang beredar tidak menimbulkan spekulasi berlebihan. Kepolisian berupaya menjaga transparansi sekaligus memastikan bahwa setiap fakta diuji melalui mekanisme pemeriksaan internal.
Komitmen Polda Sulteng Tegakkan Disiplin Internal
Kasus ini menjadi pengingat bahwa disiplin dan profesionalisme merupakan fondasi utama dalam tubuh kepolisian. Polda Sulteng menegaskan komitmennya untuk menindak setiap dugaan pelanggaran sesuai aturan yang berlaku.
Propam memiliki mandat untuk mengawasi perilaku anggota serta menegakkan kode etik. Karena itu, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh agar tidak ada aspek yang terlewat, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran prosedur.
Melalui proses ini, institusi berharap dapat menjaga integritas organisasi sekaligus meningkatkan kepercayaan publik. Penanganan yang tegas dan transparan diyakini menjadi langkah penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cnnindonesia.com
- Gambar Kedua dari radarpalu.jawapos.com
